Selasa, 01 Januari 2013

MAKALAH BIOSISTEMATIK HEWAN “Phylum Chordata”


MAKALAH BIOSISTEMATIK  HEWAN
“Phylum Chordata”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Biosistematik Hewan, Dosen pembimbing Ibu Dwi Shanti M.Si., M.Kes.

Anggota                      :           Nury Novitasari
Rida Widayanti
                                                Risca Lovita B.I.P
                                                Vinnesa Dwi Pertiwi
                                                Yogie Saepudin
                        KELAS                      :           Biologi III B
KELOMPOK            :           6




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012




KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt karena atas berkat dan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Chordata dan Hemichordata” ini.
          Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Biosistematik Hewan dengan dosen mata kuliah ibu Hj. Dwi Santi, S.Si, M.Kes.
Makalah ini berisi materi tentang semua yang berhubungan dengan filum Chordata, mulai dari ciri-ciri, klasifikasi, hingga contohnya dan Kelas Hemichordata.
          Namun, kami menyadari betul bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini mengingat kami masih dalam proses pembelajaran. Untuk itu, kritik dan saran kami harapkan dari semua pihak yang bersifat membangun bagi kesempurnaan makalah ini.
          Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, kami mengucapkan banyak terimakasih bagi semua pihak yang telah berperan dalam pembuatan makalah ini.






Bandung , 21 Desember 2012

                                                                                                            Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………....1
DAFTAR ISI……………………..……….………………………………………………...….2
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….......3
1.1  Latar Belakang……………………………………………………………....………….....3
1.2 Rumusan Masalah……………...………………………………...……………….....……..3
1.3 Tujuan……………………………………………………………………………….....…...3
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………..…..4
2.1 Karakter Chordata………….………......……………..........................…..………………..4
2.2 Chordata…….........................……………………………........……..…………………….4
2.3 Hubungan antara chordata-Inveterbrata danVertebrata……………........…………………6
2.4 Pengertian hemichordata dan kelas hemichordata……………........……………………....7
2.5 Kesamaan enteropneusta dengan pteropbranchia……………........………………………..8
2.6 Kemiripan untuk chordata……………........…………………………………........……….9
2.7 Kemiripan dengan echinodermata……………........……………………………………...10
2.8 Deskripsi phylum Hemichordata……………........……………………………………….10
2.9. Deskripsi Class Pterobranchia……………........………………………………………....15
BAB III PENUTUP……………………........…………………………………........………..19
3.1 Kesimpulan …………………........…………………………………........…….................19
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………..............….21




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayatinya baik flora maupun fauna. Fauna yang merupakan kingdom Animalia memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Jika manusia dapat mengoptimalkan kemampuannya untuk mengembangkan keanekaragaman fauna, maka akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut. Namun, sebagian besar manusia tidak memahami benar mengenai kingdom animalia itu sendiri.
Kebanyakan Masyarakat Indonesia tidak mengetahui benar klasifikasi Kingdom Animalia serta jenis-jenisnya. Untuk itu, penulis tergerak hatinya untuk membuat makalah yang menjelaskan salah satu filum dari kingdom animalia, yaitu “Chordata”. Diharapkan hal ini dapat mendorong masyarakat lainnya untuk mengenal filum-filum yang lain.

1.2  Rumusan Masalah
·         Bagaimana karakter chordata?
·         Apa saja subfilum dari chordata?
·         Bagaimana kaitan invertebrata yang terdapat pada filum chordata?
·         Apa yang dimaksud dengan hemichordata dan sebutkan kelasnya?
·         Apa kesamaan dari kelas enteropneusta dan pterobranchs?

1.3  Tujuan Pembahasan
·      Mengetahui karakteristik chordata beserta subfilumnya.
·      Mengetahui kaitan invertebrata yang terdapat pada filum chordata.
·      Mengetahui apa yang dimaksud hemichordata beserta kelasnya.
·      Mengetahui apa saja kesamaan dari kelas enteropneusta dan pterobranchs.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  KARAKTERISTIK CHORDATA
Chordata memiliki empat ciri-ciri anatomis yang  merupakan karakteristiknya, yaitu notokord, tali saraf dorsal berlubang, celah faring dan ekor pasca-anus yang berotot. Semua karakter ini berkaitan dengan berenang dengan lateralis undulations dari tubuh seperti kecebong atau ikan.
2.1.1        Notokord 
Notokord merupakan batang fleksibel dan longitudinal yang terdapat diantara saluran pencernaan dan tali saraf. Berfungsi sebagai perangkat hemat energi, karena setiap hewan yang berenang dengan undulasi otot harus kaku untuk melokalisasi efek kontraksi otot.
2.1.2        Tali saraf dorsal berlubang 
Tali saraf dorsal berlubang hanya dimiliki oleh Filum Chordata. Tali saraf suatu  embrio chordata berkembang menjadi sistem saraf pusat, otak, dan tulang  belakang. 
2.1.3        Celah faring 
Saluran pencernaan chordata memanjang dari mulut hingga anus. Celah faring  terdapat pada daerah tepat posterior terhadap mulut. Celah faring berfungsi supaya  air yang masuk dari mulut tidak terus mengalir, melainkan dapat ditahan di mulut  terlebih dahulu. 
2.1.4        Ekor pasca-anus yang berotot
Sebagian chordata memiliki ekor yang memanjang ke arah yang posterior terhadap  anus.
2.2  CHORDATA
Hewan yang termasuk chordata adalah semua hewan yang memiliki penyokong tubuh dalam, mulai dari tingkat sederhana berbentuk seperti cacing (Tunicata), ikan lancelet sampai mamalia. Phylum chordata ini dibagi atas 4 sub phylum yaitu:
1        Sub Phylum Hemichordata (hemi = setengah)
2        Sub Phylum Urochordata (oura = ekor)
3        Sub Phylum Cephalochordata (Chepale = kepala)
4        Sub Phylum Vertebrata

2.2.1        SUBFILUM CHEPALOCHORDATA
Cephalochordata atau Acrania, biasa disebut lancelet (Branchiostoma lanceolatum atau Amphioxus lanceolatus), merupakan hewan yang hidup dalam pasir pantai yang dangkal, dan hanya kepalanya yang tersembul di atas permukaan pasir . Lancelet dapat pindah dari lubangnya dan berenang dengan cepat dalam jarak pendek seperti belut. Dinding tubuh lancelet transparan dan berwarna kesumba (pink), sehingga dalam keadaan hidup, organ-organ dalamnya tampak jelas.
Lancelet tidak mempunyai kepala yang terpisah, mempunyai otak, mata, alat pendengar, atau belum berahang, bersaraf, dan bersistem peredaran darah yang berpola seperti ikan, amfibi, reptil, burung dan mamalia. System pencernaan makanan seperti sistem pencernaan oleh vertebrata pada umumnya. Tetapi alat ingesti mirip Tunicata. Pada fase yang sama Lancelet mempunyai mekanisme alat ekskresi seperti protobranchia lainnya, tidak seperti Echinodermata, tetapi anehnya seperti pada Cacing pipih, Molusca, dan Annelida. Lancelet menunjukkan perkembangan notochord, cekungan batang saraf, dan celah insang pada hewan dewasa maupun pada larvanya. Walaupun Lancelet tampak primitive, tetapi berdasar kenyataan berhasil mendiami seluruh pantai laut muka bumi. Salah satu spesies banyak dijual di pasar ikan di Cina.
Tubuh dapat dibagi menjadi kepala, badan dan ekor . Kepala terdiri atas rostrum, mulut dan oral cirri. Rostrum seperti moncong, terdapat di ujung anterior, berfungsi untuk menyingkirkan pasir saat menggali lubang. Mulut dikelilingi oral cirri, yaitu rangkaian tonjolan panjang-panjang sebagai alat indra. Badan yang besar dari setengahnya terisi oleh pharynx dan gonad. Pada sisi latero-ventral badan terdapat lipatan metapleura. Tubuh dilapisi epidermis, tanpa kutikula maupun tunic.
Sebagai anggota dari filum chordate, lancelet maupun notochord yang terletak sepanjang tubuh, benang saraf bolong sepanjang tubuh, tetapi tidak melebar membentuk otak, ekor terletak di belakang anus, dan pharynx besar dengan celah insang berpasangan.
Cephalochordata merupakan kelompok coelomata yang beruas-ruas seperti annelid dan vertebrata. Tubuh cephalochordata yang beruas-ruas tampak jelas dari otot renang yang tersusun sepanjang badan, sebanyak 50 sampai 76 unit, berbentuk V, disebut myomere (“ruas otot”), yang terletak pada kedua sisi tubuh (Gambar A dan B). Masing-masing myomere dibatasi oleh myosepta.
2.2.2        SUBFILUM UROCHORDATA
Urochordata adalah hewan dengan chorda dorsalis hanya di ekor. Memiliki dua fase hidup yaitu fase muda yang bersifat motil dan fase dewasa yang bersifat sessile, dan memiliki nama lain yang disebut tunicata. Pada perkembangan dari fase muda ke dewasanya, diawali dengan larva menemukan substrat yang keras dan dimungkinkan untuk dijadikan habitat baru. Kemudian dilanjutkan dengan hilangnya kemampuan larva untuk bergerak dan ekornya mereduksi, serta mengalami disintegrasi sistem saraf. Bagian ekor dan saraf ini kemudian membentuk gulungan dan memadat menjadi axial complex dan berada di bagian dasar tunicata. Urochordata diperkirakan mulai ada pada masa precrambian. Struktur mikroskopi dari tunicata ini memiliki spikula.
Karakteristik :
a.       Memiliki dua fase hidup, yaitu fase muda dan fase dewasa
b.      Memiliki axial complex yang terdiri dari chorda, ekor, dan sistem sarafnya
c.       Memiliki satu lubang masuk dan satu lubang keluar yaitu mulut dan anus, berbeda dengan porifera yang memiliki banyak ostium dan oskulum
d.      Hidup di substrat keras, di daerah pelagic ataupun laut terbuka
e.       Anatomi tubuhnya terdiri dari mulut, faring, endostyle yang bersilia , dan anus
f.       Pada fase muda, notochorda dan ekornya tidak bersegmen
g.      Tidak memiliki pelindung vesicula cerbralis
Endostyle pada urochordata ini homolog dengan tiroid, dan letaknya berada setelah mulut. Silia yang ada pada endostyle ini berguna untuk menangkap makanan yang ikut masuk bersama dengan air. Sedangkan faring berfungsi untuk tempat menyaring air. Sesuai dengan cirri chordate, fase larva hewan ini memiliki insang, dan chorda dorsalisnya berlubang.
Urochordata dibagi menjadi tiga kelas yaitu: kelas ascidiacea, thaliacea, dan larvacea atau appendiculari.
2.3  Hubungan antara chordata-Inveterbrata danVertebrata
Para ahli Paleontologi telah menemukan fosil invertebrata yang menyerupai Cephalochordata di Burgess Shale of British Colombia, Kanada. Fosil itu berumur sekitar 545 juta tahun, sekitar 50 juta tahun lebih tua dibandingkan dengan vertebrata tertua yang diketahui sejauh ini. Catatan pada batuan tersebut terlalu tidak sempurna bagi kita untuk dapat melacak kembali asal mula dari vertebrata pertama yang berasal dari nenek moyang inveterbrata tetapi kiya dapat mengajukan hipotesis logis mengenai evolusi iniberdasarkan anatomi dan embriologi perbandingan. Banyak ahli biologi berpendapat bahwa nenek moyang vertebrata adalah hewan yang makan dengan mengambil suspensi, mirip dengan Cephalochordata dan memiliki keempat ciri dasar Chordata tersebut. Penelitian baru oleh para ahli sistematika molukuler mengandung hipotesis bahwa Cephalochordata adalah kerabat terdekat vertebrata.
Baik Cephalochordatamaupun Vertebrata mungkin telah berevolusi dari leluhur sesil yang sama melalui paedogenesis, perkembangan dini kematangan seksual pada larva urochordata dibandingkan dengan urochordata dewasa. Perubahan dalam gen yang mengontrol perkembangan dapat mengubah waktu terjadinya perkembangan tersebut, misalnya pematangan gonad. Mungkin perubahan seperti itu terjadi pada leluhur cephalochordata dan vertebrata, menyebabkan gonad jadi matang pada larva yang hidup berenang sebelum dimulainya metamorfosis menuju bentuk dewasa yang sesil. Jika larva yang bereproduksi itu sangat berhasil, seleksi alam mungkin telah memperkuat paedogenesis dan menghilangkan tahapan metamorfosis.
Meskipun Cephalochardata dan Vertebrata kemungkinan berevolusi dari leluhur Chordata yang sama, mereka memisah sekitar setengah miliah tahun silam sehingga memiliki banyak perbedaan penting.
2.4 Pengertian hemichordata dan kelas hemichordata
          Hemichordata adalah salah satu subfilum dari filum chordata. Heichordata sendiri sulit dibedakan dengan filum chordata itu sendiri, karena dalam sub phylum ini terdapat beberapa jenis binatang yang mempunyai bentuk seperti cacing. Oleh karena ini dan lain faktor, hemichordates diperlakukan sebagai famili dari echinodermata dan chordata.
Sub Phylum Hemichordata dibagi menjadi dua klas dan dua ordo yaitu:
·         Class : Enteropneuta, contoh Balanoglossus sp.
·         Class : Peterobranchia
·         Ordo : Cephalodiscoides, contoh Cephalodiscus sp.
·         Ordo : Rhabdopleuridea, contoh : Rhabdopleura, sp.


KELAS ENTEROPNEUSTA
Bentuk tubuh seperti cacing dengan ukuran 9-45 cm. Umumnya terdapat di perairan dangkal, di bawah batu dan karang dan meliang dalam lumpur dan pasir.
Tubuh umumnya lunak dan terdiri dari belalai, kelepak (collar), dan badan yang panjang. Pada belalai (probosis) terdapat cillia yang berfungsi sebagai tenaga penggerak dan mengalir butir-butir makanan yang menmpel pada lendir ke mulut. Kelepak berbentuk silinder, bagian anterior menutupi belalai dan bagian ventral terletak mulut. Tepi sisi dorsal badan yang berbatasan dengan kelepak terdapat deretan pori-pori insang yang tersusun longitudinal.
Enteropneusta yang hidup meliang sebagian besar merupakan pemakan bahan organik tersuspensi, yaitu memakan detritus dan palnkton yang melekat pada lendir permukaan belalai. Sistem pencernaan terdiri dari mulut, pharinx, esofagus, usus, dan anus. Sistem peredaran darah terbuka terdiri dari pembuluh kontraktil dan satu sistem saluran sinus. Darah tidak berwarna.
Enteropneusta merupakan cacing yang mudah putus sehingga sering sekali bentuknya sudah tidak utuh. Cacing ini memiliki daya regenerasi yang besar, sehingga dapat memperbaiki bagian tubuhnya yang rusak. Reproduksi seksual, dioecious dan pembuahan terjadi di luar. Telur mentas menjadi larva tornaria yang berenang bebas.

KELAS PTEROBRANCHIA
Merupakan cacing kecil yang hidup di dalam tabung, berkelompok atau berkoloni. Panjang individu tidak lebih 12 mm. Tubuh terdiri atas probosis yang berbentuk seperti tameng (perisai) dan tangan-tangan yang mengandung tentakel terdapat di bagian dorsal kelepak (collar). Tangan tentakel tersebut disebut tangan lophophore. Tentakel berfungsi untuk menangkap makanan yang berupa organisme kecil dan disalurkan oleh cillia ke mulut.
Reproduksi aseksual dengan membentuk pertunasan sehingga menghasilkan sebuah koloni yang lebih besar. Reproduksi seksual, dioecious dengan pembuahan terjadi di luar, larva mirip dengan larva tornaria.
2.5 Kesamaan enteropneusta dengan pteropbranchia
Enteropneusta dengan pteropbranchia tampak begitu berbeda, tetapi struktur dasar yang sama dapat ditelusuri dan mereka memiliki beberapa fitur unik yang sama: The stomochord adalah batang seperti rongga yang tumbuh keluar dari usus bagian punggung, dilapisi dengan sel flagellata. Bagian tersebut memanjang dari atap mulut ke belalai di Enteropneusts, yang merupakan pendukung organ jantung dan ekskretoris, atau perisai mulut dalam pterobranchs. Batang ini tampak seperti notochord pendek dan pernah digambarkan, akan tetapi terdapat kesalahan: berkembang berbeda dari notochord, dan merupakan organ kelenjar bukan batang pendukung. Hal ini terkait dengan organ ekskretoris pada kedua kelompok.
Collar (kerah) adalah struktur khas yang mengandung mesocoel, dengan saluran membawa cairan selom ke celah insang pertama. Pada kelompok tersebut ini adalah mulut di sisi ventral dan merupakan situs utama sistem saraf epidermal.
'Hati / glomerulus' kompleks yang sama pada kedua kelompok. Jantung terletak di bagian posterior dan protocoel menerima darah dari saluran antara stomochord dan perikardium. Darah didorong ke dalam pembuluh oleh kontraksi dari perikardium. Lipatan dinding usus terkait erat membentuk glomerulus, yang merupakan tempat filtrasi. Urine dikeluarkan melalui pori protocoel.
Dasar laut dalam menyediakan hewan menarik bahwa pada awalnya merupakan penggabungan fitur dari kedua kelompok (mereka disebut 'Lophoenteropneusts'), namun penelitian lebih lanjut menunjukkan mereka tidak memiliki tentakel tetapi digolongkan menjadi family baru Enteropneusts yang khas.
2.6 Kemiripan untuk chordata
Kemiripan untuk chordata sedikit. Tidak ada notochord, ekor, tidak ada aliran darah bagian perut maju dan meskipun jaringan saraf di enteropneusts adalah hampa itu tidak diperpanjang ke punggung chordate saraf sumsum. Struktur larva tidak memberikan bukti hubungan apapun untuk chordata. Tidak seperti chordata, kedua kelompok hemichordata mengumpulkan makanan mereka eksternal, Enteropneusts oleh belalai dan pterobranchs oleh lophophores. Para celah insang adalah luar biasa 'Chordata karakter dari Enteropneusts, dan mungkin diperlukan untuk membantu respirasi pada hewan menggali. Pada titik ini pandangan yang lebih luas dari hubungan deuterostoma adalah diperlukan, untuk menyertakan echinodermata, satu-satunya deuterostoma utama lainnya filum. Baru-baru ini, gagasan bahwa celah insang terbatas pada chordata telah dipertanyakan, paling dramatis dengan ditemukannya celah insang dalam setidaknya satu kelompok fosil echinoderm awal.

2.7 Kemiripan dengan echinodermata
Meskipun struktur dewasa sangat berbeda, perkembangan karakter menunjukkan hubungan yang erat antara binatang berkulit lunak dan hemichordata. Perkembangan awal mereka sangat mirip, tidak hanya di awal tahapan yang mendefinisikan embriologi deuterostoma tetapi juga asal mula dan perkembangan dari tiga divisi coelom tersebut. Untuk contoh vaskular sistem air di echinodermata berasal dari mesocoel, seperti adalah coelom kerah yang menembus seluruh lophophore di pterobranchs. The crinoid sessile mengumpulkan mereka makanan menggunakan kaki tabung berisi cabang dari pembuluh darah air sistem, sangat banyak seperti pterobranchia sessile menggunakan lophophore tersebut. The madreporite echinodermata sesuai dengan kerah hemichordata pori. Dalam kedua filum kantung selom kiri menjadi dominan sebagai hewan berkembang, dan kantong di sisi kanan hilang. Larva tornaria dari Enteropneusts memiliki kemiripan dengan echinodermata bipinnaria yang lebih dangkal. Kedua larva memiliki saluran pori dari coelom anterior mengarah ke sebuah hydropore, sekarang dikenal berfungsi sebagai pori ekskretoris.
2.8. Deskripsi phylum Hemichordata
Hemichordata (hem'i-kor-da'ta) (Gr. hemi, setengah, chorda, senar, kabel) adalah hewan laut yang sebelumnya dianggap sebagai subphylum dari chordates, berdasarkan adanya celah insang dan notochord dasar. Namun, yang disebut hemichordate memiliki notochord buccal diverticulum (disebut stomochord, yang berarti "mulut-kabel") dan tidak homolog dengan notochord chordate, sehingga hemichordates diklasifikasikan dari filum yang terpisah.
Hemichordates penghuni bawah air berbentuk ulat, biasanya tinggal di perairan dangkal. Beberapa spesies kolonial hidup dalam tabung tersembunyi. Kebanyakan menetap atau sessile. Distribusi mereka hampir kosmopolitan, namun kebiasaan rahasia mereka dan tubuh rapuh membuat mereka sulit dikoleksi.
Anggota kelas Enteropneusta (Gr. enteron, usus, pneustikos, pernapasan) (cacing acorn) berkisar dari 20 mm sampai 2,5 m panjang. Anggota kelas Pterobranchia (Gr. pteron, sayap, branchia, insang) lebih kecil, biasanya 1 sampai 12 mm, tidak termasuk tangkai. Sekitar 70 spesies Enteropneusts dan dua genera kecil pterobranchs yang sudah diakui. Hemichordates memiliki struktur tricoelomate khas deuterostoma (hewan purba tingkat rendah).


Characteristics of Phylum Hemichordata
1. Bertubuh lembut, seperti cacing atau pendek dan kompak dengan tangkai (badan) berbuku.
2. Tubuh dibagi menjadi belalai, kerah (lipatan), dan trunk (badan), kantong selom tunggal di belalai, divertikulum bukal di bagian belakang belalai.
3. Enteropneusta bebas bergerak dan menggali, sessile pterobranchs, sebagian besar kolonial, yang tinggal di tabung tersembunyi.
4. Sistem sirkulasi pembuluh dorsal dan ventral dan hati dorsal
5. Sistem pernapasan dari celah insang (sedikit atau tidak ada pada pterobranchs) menghubungkan faring dengan luar seperti pada chordata
6. Tidak ada nephridia, sebuah glomerulus yang terhubung ke pembuluh darah mungkin memiliki fungsi ekskretoris
7. Sebuah saraf pleksus subepidermal menebal untuk membentuk tali saraf dorsal dan ventral, dengan ikat cincin di leher, saraf sumsum dorsal berongga kerah di beberapa
8. Jenis kelamin terpisah di Enteropneusta, dengan gonad sebagai rongga tubuh, dalam reproduksi pterobranchs mungkin seksual atau aseksual (dalam beberapa) oleh tunas, tornaria larva dalam beberapa Enteropneusta.
Phylum Hemichordata, terdiri dari:
·         Class Enteropneusta
·          Class Pterobranchia

Class Enteropneusta

              Class Pterobranchia
2.8. Deskripsi Class Enteropneusta
Enteropneusts, atau cacing acorn, lamban, hewan nguler yang hidup di liang atau di bawah batu, biasanya dalam lumpur atau pasir dari zona intertidal. Balanoglossus (Gr. Balanos: acorn, glossa: lidah) dan Saccoglossus (Gr. Sakkos: kantung, saringan, glossa: lidah) seperti pad a (Gambar 24-2).
Figure 24-2
Acorn worm Saccoglossus (Hemichordata, class Enteropneusta). A, External lateral view.
B, Longitudinal section through anterior end.
Bentuk dan Fungsi
Tubuh lendir tertutup dibagi menjadi belalai lidah-lidah, kerah pendek, dan batang yang panjang (protosome, mesosome, dan metasome).
Gambar 24-3
Arus makanan enteropneust hemichordate.
A. Side view of acorn worm dengan mulut terbuka, menunjukkan arah arus yang diciptakan oleh silia pada belalai dan kerah. Partikel makanan diarahkan ke mulut dan saluran pencernaan. Partikel bergerak ke arah luar Ditolak kerah. Air daun melalui pori-pori insang.
B. Ketika mulut tersumbat, semua partikel ditolak dan melewati kerah (lipatan).
hemichordates  non penggali dan beberapa yang menggali menggunakan metode tersebut untuk mendapatkan makanan.
Proboscis: belalai, adalah bagian aktif dari hewan tersebut. Hewan Ini menyelinap  dalam lumpur, memeriksa sekitarnya dan mengumpulkan makanan di helai lendir pada permukaannya. Cilia membawa partikel ke alur di tepi kerah, mengarahkan makanan ke mulut di bagian bawah, dan kemudian partikel tertelan. Partikel besar dapat ditolak dengan menutup mulut pada tepi kerah, seperti pada (Gambar 24-3).
Penghuni liang menggunakan belalai untuk menggali, menyodorkan belalai ke dalam lumpur atau pasir dan memungkinkan silia dan lendir untuk memindahkan pasir mundur. Atau mereka menelan pasir atau lumpur saat mereka bepergian, mengekstrak bahan organik. Mereka membentuk    huruf-U, lendir-berbaris liang, biasanya dengan dua pembukaan 10 sampai 30 cm terpisah dan dengan dasar 50 sampai 75 cm U di bawah permukaan. Mereka dapat mendorong belalai mereka keluar pada pembukaan depan untuk menyusui. Buang air besar pada pembukaan belakang membangun gundukan spiral feses yang meninggalkan petunjuk sebagai tanda untuk menuju  lokasi liang.
Pada akhir posterior dari belalai adalah kantung selom kecil (protocoel) sampai divertikulum bukal, kantong, seterusnya berakhir pada usus yang maju ke wilayah bukal dan sebelumnya dianggap sebuah notochord. Sebuah kanal ramping menghubungkan protocoel dengan pori belalai seperti (Gambar 24-2B). Rongga selom dipasangkan di leher juga terbuka dengan pori-pori. Dengan mengambil air kedalam melalui pori-pori ke dalam kantung selom, belalai dan kerah dapat menegang untuk membantu dalam menggali. Kontraksi otot-otot tubuh yang kemudian memaksa kelebihan air keluar melalui celah insang, mengurangi tekanan hidrostatik dan memungkinkan hewan untuk bergerak maju.
Sistem branchial: Sederet pori-pori insang yang terletak dorsolaterally di setiap sisi dari batang tepat di belakang kerah (Gambar 24-3A). Buka dari serangkaian gill ruang yang pada gilirannya terhubung dengan serangkaian celah insang di sisi faring pori-pori. Tidak ada insang pada celah insang, tetapi beberapa pertukaran gas pernapasan terjadi di epitel branchial pembuluh darah, serta di permukaan tubuh. Arus ciliary menjaga pasokan air segar bergerak dari mulut melalui faring dan keluar celah insang dan ruang branchial ke luar.
Makan dan Sistem Pencernaan: hemichordates sebagian besar memiliki pengumpan lendir ciliary. Belakang rongga bukal terletak faring besar berisi di bagian dorsal berbentuk-U pada celah insang (Gambar 24-2B). Karena tidak ada insang, fungsi utama dari mekanisme branchial faring diduga mengumpulkan makanan. Setelah terperangkap dalam lendir dan dibawa ke mulut dengan tindakan ciliary pada belalai dan kerah, partikel makanan yang tegang dari air branchial yang meninggalkan melalui celah insang. Makanan kemudian melewati bagian ventral dari faring dan kerongkongan ke usus, di mana pencernaan dan penyerapan terjadi (Gambar 24-3).
Sistem peredaran darah dan ekskresi middorsal, membawa sel darah takberwarna maju sampai usus. Dalam kerah (lipatan) berkembang menjadi sinus dan vesikel jantung di atas diverticulum bukal. Darah kemudian memasuki jaringan sinus darah yang disebut glomerulus, yang sebagian mengelilingi struktur tersebut. Glomerulus diasumsikan memiliki fungsi ekskretoris (Gambar 24-2B). perjalanan posterior darah melalui pembuluh ventral bawah usus, melewati sinus yang luas ke usus dan dinding tubuh.
Saraf dan Sistem sensori: Sistem saraf terdiri sebagian besar dari jaringan subepitel, atau pleksus, sel-sel saraf dan serat memproses sel epitel yang terpasang. Thickenings merupakan tali saraf dorsal dan ventral yang bersatu pada posterior kerah dengan ikatan cincin. Kabel dorsal berlanjut ke kerah dan melengkapi serat banyak pleksus dari belalai. Kabel kerah yang berlubang di beberapa spesies dan mengandung sel-sel saraf raksasa dengan proses yang berjalan pada batang saraf. Sistem saraf pleksus cukup mengingatkan bahwa cnidaria dan echinodermata.
Sensorik reseptor termasuk sel neurosensorik pada seluruh epidermis (terutama di belalai, organ ciliary preoral yang mungkin chemoreceptive) dan sel-sel fotoreseptor.
Sistem Reproduksi dan Pengembangan: Alat Kelamin terpisah di Enteropneusts. Sebuah baris dorsolateral dari gonad hingga sepanjang sisi bagian anterior dari batang (badan). Pembuahan (Fertilisasi) eksternal, dan dalam beberapa spesies larva tornaria bersilia berkembang bahwa pada tahap tertentu sangat mirip dengan bipinnaria echinoderm yang pernah diyakini menjadi larva echinoderm (Gambar 24-4). The Saccoglossus pada perairan Amerika memiliki pengembangan langsung tanpa tahap tornaria.
Figure 24-4
Comparison of a hemichordate tornaria (A) to an echinoderm bipinnaria (B).
2.9. Deskripsi Class Pterobranchia
Rancangan dasar kelas Pterobranchia mirip dengan Enteropneusta, namun berbeda struktural tertentu berkorelasi dengan menetap gaya hidup dari pterobranchs. The pterobranch pertama yang pernah dilaporkan diperoleh oleh ekspedisi Challenger terkenal dari 1872-1876. Meskipun pertama kali ditempatkan di antara Polyzoa (Entoprocta dan Ectoprocta), afinitas untuk hemichordates kemudian diakui. Hanya dua genera (Cephalodiscus dan Rhabdopleura) dikenal secara rinci.
Figure 24-5
Cephalodiscus, sebuah pterobranch hemichordate.
berukuran kecil (5 sampai 7 mm), hidup dalam tabung
di mana mereka dapatbergerak bebas. Bersilia tentakel
dan lengan langsung mengambil makanan dan air muju mulut.

Pterobranchs adalah hewan kecil, biasanya dalam kisaran 1 sampai 7 mm panjang, meskipun tangkai dapat lebih panjang. Banyak individu dari Cephalodiscus (kephale: kepala, + diskos, disc0piringan) (Gambar 24-5) hidup bersama dalam tabung kolagen, yang sering membentuk sistem anastomosing. Zooids tidak terhubung, dan hidup mandiri dalam tabung. Melalui lubang dalam tabung, mereka memperpanjang tentakel mahkota mereka. Mereka melekat pada dinding tabung dengan batang lentur (menonjol) yang dapat bergerak kembali ke tabung bila diperlukan.
Tubuh Cephalodiscus dibagi menjadi tiga bagian: belalai, kerah, dan batang-karakteristik hemichordates. Hanya ada satu pasang celah insang, dan saluran pencernaan berbentuk-U, dengan anus dekat mulut. Belalai adalah perisai berbentuk. Di dasar belalai lima sampai sembilan pasang bercabang lengan dengan tentakel yang berisi perpanjangan kompartemen selom dari mesosome, seperti dalam sebuah lophophore. Alur bersilia pada tentakel dan lengan mengumpulkan makanan. Beberapa spesies dioecious, dan lain-lain yang berumah satu. Reproduksi dengan tunas juga dapat terjadi.
Dalam Rhabdopleura (rhabdos: batang, + pleura, tulang rusuk, sisi), yang lebih kecil dari Cephalodiscus, para anggota berkoloni untuk membentuk koloni zooids dihubungkan dengan stolon dan tertutup dalam tabung disekresikan (Gambar 24-6) . Kerah dalam bentuk beruang dua lengan bercabang. Tidak ada celah insang atau glomeruli hadir. Individu baru diproduksi oleh tunas dari stolon basal merayap, yang cabang di sebuah substratum. Pterobranch ada memiliki saraf kabelnya tubular di kerah, tetapi jika tidak, sistem saraf mereka mirip dengan Enteropneusta.


Figure 24-6
ARhabdopleura, a pterobranch hemichordate in its tube.
Individuals live in branching tubes connected by stolons,
and protrude the ciliated tentacles for feeding. B, Portion of a colony.
Fosil graptolit pada pertengahan era Paleozoikum sering ditempatkan sebagai kelas bawah Hemichordata punah. Mereka adalah fosil indeks penting dari Ordovisium dan Silur strata geologi. Penyelarasan graptolit dengan hemichordates telah sangat kontroversial, namun penemuan organisme yang tampaknya menjadi graptolite hidup memberikan dukungan yang kuat untuk hipotesis. Ini telah digambarkan sebagai spesies baru pterobranch, graptolitoides yang disebut Cephalodiscus.
Graptolite fossils appear from the Cambrian and dissapear in the Carboniferous. Yannanozoon lividum from the early Cambrian Chengjiang Biota is a putative, primitive hemichordate, though some scientists have assigned it to the enigmatic phylum Vetulicolia.
Description: Yannanozoon lividum, Earliest Known Hemichordate from Chengjiang Biota
Description: http://www.fossilmuseum.net/fossils/hemichordata/Phyllograptus-archaios/Phyllograptus-archaios-t.jpg
Description: Spirograptus Silurian Graptolite

Description: http://www.fossilmuseum.net/fossils/hemichordata/Phyylograptus/Phyllograptus-typus-t.jpg
Yannanozoon lividum
Early Cambrian
Chengjiang, China
Spirograptus turriculatus   Graptolite
Silurian
New South Wales, Australia
Phyllograptus archaios Graptolites
Ordovician
Fillmore Formation, Utah
Phyllograptus typus Graptolite
Ordovician
Victoria, Australia
Description: GraptoliteDescription: http://www.fossilmuseum.net/fossils/hemichordata/sphenoecium/AAF349Ct.jpg



Description: Graptolite Fossil
Phyylograptus fructicosus Graptolite
Ordovician
Victoria, Australia
Sphenoecium discoidalis Graptolite
Cambrian
Christmas Hills, Australia
Aspidograptus smithonensis Graptolite
cambrian
Tasmania, Australia






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Phylum Chordata, subphylum Hemichordata, Cacing acorn terkait dengan vertebrata karena mereka memiliki notochord tetapi tidak ada tulang belakang. Ada sebuah struktur kerah (lipatan) di kepala yang membuat mereka mudah untuk dibedakan dari filum cacing lain. Mereka menggali bentuk yang meninggalkan gulungan pasir di permukaan. Sebuah sumber makanan bagi ikan dan moluska banyak.
Phylum Hemichordata, merupakan:
  • Cacing laut
  • Hubungan yang jelas  dengan chordates dan  echinoderms yang lain
·         Chordates: (+) celah faring, invaginasi embrio saraf kabelnya (-) notochord, postanal ekor
·         Echinodermata: bipinnaria larva bintang laut dan larva tornaria dari balanoglossids, jumlah dan pembentukan ruang selom
  • Phylum Hemichordata
        A. Class Enteropneusta
        B. Class Pterobranchia
Dolichoglossus kowaleyskyi
acorn worm
I. integumen: Kulit
II. pencernaan
       - Mulut, insang aparat, caeca hati, usus, anus
III. reproduksi
       - gonad
IV. system saraf
       - Notochord, jaringan serat saraf, saraf kabel kerah (lipatan)
V. Peredaran Darah
       - Pembuluh darah, darah, sinus darah sentral, vesikel jantung
VI. ekskretoris
       - Kulit, glomerulus, nephridia
Dolichoglossus kowaleyskyi
acorn worm
Dolichoglossus kowaleyskyi
acorn worm



DAFTAR PUSTAKA

Alexander, R.M., 1981. The chordates. 2nd edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Anderson, D.T., 1998. Invertebrate zoology. Oxford university press
Barnes, R.D., 1987. Invertebrate Zoology. 5th edition. Philadelphia: Saunders College Publishing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar